Lukman's Blog

Latest Article

Latest Comment

Canon and Nikon, a Legendary Debate of the Fools

Posted on: 2009-02-18

"Which is better, Nikon or Canon?" I found this question almost like a trademark for someone who want to get their first DSLR (Digital Single-Lens Reflex) camera, and people who are ready to answer this question mainly can be divided into two groups: those who are ready to answer,
1. "This brand is better. That brand is not."
2. "It's the same. Depends on your preferences."
Well, at least by the time I wrote this, people whom I met and can be categorized as the second group are countable with fingers, while people in the first category are uncountable.

Canon and Nikon are the main player in DSLR industries, and together they hold about 80% of DSLR marketplace in Japan. Both of them are ultra-billion company which produce high-quality lenses. Yes, it's lenses, not camera. So, it is really weird to see someone invest so much in camera but refuse to invest in good lenses. Some expert even said that having high-quality camera attached with low-quality lenses is the same as having high-quality CD player plugged with crappy speaker: you won't get a good sound no matter how good the player, the CD, and the singer.

Back to the topic, this phenomenon is somewhat similar to religion case, especially in case of sectarian struggle among the fool. In such level, the fool are quite loyal to what he/she believes first, and some even have good confidence to insult the others. In fact, the person who pledge for loyalty doesn't always understand about what he/she believes, not even mentioning about other thing which he/she doesn't believe. Things can be worse if "this is good" and "this is bad" are statement heard from a third person, and to make thing even worse is: that third person also doesn't have qualification to judge. Another case is when a person has a chance to compare both side, but using invalid method to produce invalid conclusion. Let say a person shoot some objects inside a bright room with camera A in automated mode and the camera decided this setting: ISO 400 f8 1/100. Then in another chance, the same person is going to shoot the same object inside a less bright room with camera B in automated mode, and the camera decided this setting: ISO 1600 f3.5 1/15. When the result comes out, the person get pissed with camera B for giving blurred and noised picture. A great comparison method, huh?

When I heard the voice of professional photographer regarding to this matter, they tends to be the people of second group. Some of them even said, "That brand is very good. But now I'm using this brand. That's all." Come to think of it, with such reputation, no one would deny if this professional said, "that brand is bad," and no beginner would refuse to believe the person said, "this brand is good." Yet they don't do it. So, it is ironic to hear "this brand is good, that brand is not" coming from a camera-man who even needs more than 3 second to set the ISO of its own DSLR ... if the person know what is ISO.

Of course, each person is free to make their judgement. But improper judgement, which is delivered to the public, only revealing how poor the person who judge. On top of that, people who heard the judgement may not obtain any benefit. In order to make a good judgement, one needs to have experience in both brands AND handled both of them properly. It is very ridiculous to say that a certain brand of ice cream is awful in taste, if the person never actually tasted it before. Also, we can't claim that ice cream A is better than B, if we ate ice cream A as it comes out from freezer but ate B when it had been boiled together with instant noodle. Additionally, a person can't make a good comparison if: he utilized camera A with all of its feature because he understand, but utilized camera B for point-and-shoot in auto-mode because he doesn't want to understand the feature inside.

Saya sering menjumpai orang yang ingin membeli DSLR (Digital Single-Lens Reflex) senantiasa menanyakan, "Mana yang lebih bagus, Nikon atau Canon?", dan orang-orang yang siap menjawab pertanyaan ini dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok:
1. Mereka yang menjawab, "Merek ini lebih bagus. Merek itu jelek."
2. Mereka yang menjawab, "Sama saja, tergantung preferences."
Setidaknya sampai saat tulisan ini dibuat, orang yang termasuk kelompok nomor dua yang saya jumpai dapat dihitung dengan jari sebelah tangan, sedangkan yang termasuk kelompok satu sudah tidak terhitung dengan jari saya.

Canon dan Nikon adalah pemain utama dalam industri DSLR, dan keduanya memegang 80% DSLR market-share di Jepang. Canon dan Nikon adalah perusahaan besar yang memproduksi lensa kualitas tinggi. Lensa, bukan kamera. Jadi agak janggal ketika ada orang yang berinvestasi habis-habisan di kamera namun ogah berinvestasi di lensa. Seorang pakar ada yang menganalogikan bahwa memasang lensa kualitas rendah pada kamera profesional dapat disamaka n dengan seseorang yang memasang speaker kualitas sampah pada CD playernya, yaitu orang tersebut tidak akan memperoleh suara yang bagus, meskipun CD-nya bagus, playernya high-tech, dan penyanyinya bersuara emas.

Kembali ke topik, fenomena Canon VS Nikon ini persis dengan agama, khususnya mengenai aliran dan sekte di akar rumput. Pada level dasar tersebut, pengikut suatu aliran cenderung fanatik dengan keyakinannya dan bahkan ada yang cukup pe-de untuk mencela aliran lain. Padahal, yang bersangkutan belum tentu paham dengan apa yang ia yakini, apalagi terhadap hal lain yang ia tidak pelajari namun ia cela. Bisa jadi yang mengatakan ini bagus dan itu jelek, tidak lain lantaran mendengar dari orang lain, dan orang yang menjadi narasumber pun belum tentu layak dijadikan narasumber. Kasus lain yang mungkin terjadi adalah ketika seseorang berkesempatan mempelajari kedua sisi, tetapi metodenya yang kurang tepat justru malah berpotensi menghasilkan kesimpulan keliru. Katakanlah seseorang menggunakan kamera pocket merek A setting semi automatic (karena pemula) dan si kamera menetapkan ISO 200 f8 1/100 untuk memotret bunga di cahaya yang cukup, kemudian di lain kesempatan ia menggunakan kamera prosumer merek B dengan setting semi automatic juga dan si kamera menetapkan ISO 1600 f3.5 1/15 memotret jenis bunga yang sama di bawah pohon rindang. Kedua foto dicetak dan dibandingkan, lalu dimaki-makilah kamera B karena hasil fotonya berbintik-bintik dan kabur, sementara hasil dari kamera A sangat cemerlang. Apakah metode perbandingan semacam ini bisa dijadikan referensi untuk mempercayai bahwa kamera B lebih jelek daripada A?

Saya amati para fotografer professional yang berbagi cerita di dunia maya, cenderung pada kelompok kedua. Bahkan ada yang sanggup berkata, "Merek A sangat bagus, tapi saat ini saya tengah menggunakan merek B. Itu saja." Padahal dengan reputasinya, tidak akan ada yang membantah kalau ia mengatakan merek A sangat jelek, dan pemula mana yang tidak percaya kalau ia mengatakan merek B sangat bagus. Tapi, mereka tidak melakukannya. Di sisi lain, ironis rasanya ketika mereka yang masih memerlukan waktu lebih dari tiga detik untuk men-set ISO kamera-DSLR-nya sendiri ternyata mampu mengklaim, "Merek ini bagus, merek itu tidak."

Tentu saja tiap orang bebas membuat penilaian terhadap sesuatu. Tetapi, penilaian yang tidak memiliki dasar kuat dan dilempar ke publik hanya menunjukkan kekurangan orang yang membuat penilaian tersebut. Lebih jauh, orang yang mendengarnya pun tidak akan memperoleh banyak manfaat (itu pun kalau masih ada manfaatnya). Untuk menghasilkan penilaian yang tepat, seseorang perlu memiliki pengalaman dalam menggunakan kedua benda tersebut dan menggunakan keduanya secara tepat. Akan sangat konyol jika seseorang mengklaim bahwa es krim merek A tidak enak padahal yang bersangkutan belum pernah memakannya. Seseorang juga tidak layak mengklaim bahwa es krim A lebih baik daripada B, jika ia mengujinya dengan mencicipi es krim A sesaat setelah dikeluarkan dari freezer dan mencicipi es krim B yang direbus bersama mie instan. Lebih jauh, seseorang juga tidak bisa menghasilkan perbandingan yang baik jika: ia menggunakan kamera A dengan segala featurenya karena ia mengerti, namun menggunakan kamera B hanya untuk point-and-shoot dengan mode otomatis karena ia enggan untuk mengerti feature di dalamnya.

pro photographers

Professional photographers (in counter-clockwise direction): John McDermott, Jim Richardson, Sara France, and Bob Davis. Canon or Nikon?
The photos were taken from Apple's website

  • BlinkList
  • blogmarks
  • del.icio.us
  • digg
  • Furl
  • Ma.gnolia
  • Reddit
  • YahooMyWeb

Comments

niSha wrote:

setuju ommmm... nisHa lum pernah nyoba pake Nikon,,,jd smpai skarang mang lebih pede pake Canon...

Posted on 2009 Apr 08 from jogja

kadek juni wrote:

saya cuman punya camera pocket..tapi udah cukup bagi saya..DSLR dibeli dng devisa negara yg sangat tinggi..tuker pake apa ama negara RI?

Posted on 2010 Apr 15 from denpasar

Write comment

  • Name
  • Location
  • Email

    Will not be shown to public
  • Comment

    No HTML tag
  • Answer the following question: 3 + 3 = ?

Back to the top